Senin, 25 Juni 2012

peran guru matematika


TUGAS          :           BAHASA INDONESIA
PERAN GURU MATEMATIKA
 DALAM MENGANTISIPASI KESULITAN SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

UNIDAYAN Asli


DISUSUN OLEH :
NAMA            :           ADIDIN
KELAS           :           B
NPM               :           10 221 059


PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAU – BAU

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mengajar adalah kegiatan yang sangat kompleks, karena merupakan  interaksi yang halus bervariasi antara guru, siswa, bahan pelajaran kelas dan lingkungan kultural (James Popham dan Eva L. Baker : 2008). Pelaksanaan pengajaran ini rumit sekali sehingga diperlukan pemahaman secara tuntas terhadap sebagian besar interaksi yang berpengaruh pada pengajaran. Olehnya itu, dalam proses mengajar seorang guru juga harus mampu berinteraksi dengan siswa, dan lingkungan sekitarnya.
Bagi seorang guru matematika, bukan hanya penguasaan terhadap bahan pelajaran sangat dibutuhkan namun seorang guru matematika juga harus mampu mengubah cara pandang siswa terhadap matematika. Sebab, matematika dianggap sebagai momok bagi pelajar (Surya, 2005). Anggapan tersebut menjadi masalah klasik yang terjadi pada hampir semua jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Pendidikan Tinggi. Pada kenyataannya, masih ada image yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit. Salah satu faktor yang dapat berpengaruh buruk terhadap prestasi matematika siswa adalah kecemasan.
Guru memegang peranan penting dalam mencari alternatif untuk mengatasi kecemasan siswa yang tidak berkesempatan mendapatkan pelajaran tambahan matematika di luar sekolah. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan menciptakan suasana belajar yang dapat mengurangi tingkat kecemasan siswa. Fisher (1988, h.17) menyebutkan bahwa guru kelas dapat membantu mengurangi kecemasan siswa dengan membuat suasana kelas yang menyenangkan, seperti menggunakan humor, permainan, dan aktivitas dengan tingkat relaksasi tinggi.Kecemasan siswa juga dapat dikurangi dengan memberikan rasa aman kepada siswa, suasana santai tetapi teratur, dan juga dengan kurikulum dan jadwal yang terorganisir secara baik. Situasi kelas yang penuh kompetisi sebaiknya juga tidak diterapkan. Pada dasarnya, guru diharapkan dapat menerapkan suatu metode pembelajaran yang dapat mengurangi tingkat kecemasan siswa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan perilaku dan prestasi belajar siswa.
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dididentifikasi bahwa kesulitan siswa terhadap matematika disebabkan karena kecemasan siswa terhadap suasana persaingan dari penerapan metode kompetisi. Sehingga, dari hal ini diperlukan seorang guru yang tidak hanya menguasai bahan pelajaran, tetapi juga seorang guru yang mampu mengubah dan menghilangkan kecemasan siswa terhadap matematika.
  1. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang bagaimana peran seorang guru dalam mengantisipasi kesulitan siswa terhadap mata pelajaran matematika.
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah semoga dapat menambah wawasan serta pengetahuan baik bagi pembaca serta bagi penulis sendiri .
  1. Ruang Lingkup
Agar lebih efektif dan efisien, maka dalam makalah ini penulis hanya akan mengkaji tentang hal – hal berikut :
  1. Bagaimana menyingkap mitos negatif masyarakat terhadap Matematika ?
  2. Bagaimana peran guru sebagai seorang guru harapan bangsa ?
  3. Metode/cara apakah yang ada dalam pembelajaran matematika yang dapat digunakan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran matematika ?


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Menyingkap Mitos Negatif Masyarakat terhadap Matematika
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus disukai setiap manusia, terutama oleh siswa di sekolah. Sebab ternyata matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari – hari.
Matematika berkembang seiring dengan peradaban manusia. Sejarah ilmu pengetahuan menempatkan matematika pada puncak hierarki ilmu pengetahuan. Matematika seolah – olah menjadi ratu bagi ilmu pengetahuan, peletakan yang demikian  –menurut anggapan kebanyakan orang– menimbulkan mitos bahwa matematika adalah penentu intelektual seseorang (Abdul Halim Fathani : 2009). Jika seseorang tidak mengerti matematika, berarti mereka dianggap tidak pintar. Padahal kepintaran seseorang itu bermacam – macam, ada yang jenius dalam bidang sains, dan yang yang lain jenius di bidang seni, namun tidak mengerti matematika sama sekali.
Di samiping itu, masyarakat juga memiliki persepsi negatif terhadap matematika. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Frans Susilo, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai matematika. Untuk memahami matematika secara benar dan sewajarnya, pertama – tama perlu diklarifikasi terlebih dahulu beberapa mitos ( persepsi ) negatif terhadap matematika, antara lain :
Pertama, anggapan bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat mempelajari matematika diperlukan kecerdasan yang tinggi, akibatnya bagi mereka yang merasa kecerdasannya rendah, mereka tidak termotivasi untuk belajar mtematika.
Kedua, bahwa matematika adalah ilmu berhitung. Kemampuan berhitung dengan bilangan – bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, pada hakikatnya berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan matematika. Selain mengerjakan perhitungan – perhitungan, orang juga berusaha memahami mengapa perhitungan itu dikerjakan dengan menggunakan suatu cara tertentu.
Ketiga, bahwa matematika hanya menggunakan otak. Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak. Namun, logika dan kecerdasan otak saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreatifitas dan intuisi manusia sperti halnya seni dan sastra. Kreatifitas dalam matematika menyangkut akal budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal – hal yang benar.
Keempat, bahwa yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar. Jawaban yang benar memang penting dan harus diusahakan. Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana prosesnya untuk memperoleh jawaban yang benar. Dengan kata lain, dalam menyelesaikan pelbagai persoalan matematika, yang lebih penting adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang benar.
Kelima, bahwa kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi. Kebenaran matematika tergantung kesepakatan awal yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada anggapan bahwa tidak ada kebenaran ( tuth ) dalam matematika, yang ada hanyalah kesalahan ( validity ), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang digunakan manusia pada umumnya.
  1. Peran Guru Harapan Bangsa
Menurut Undang – undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 adalah “ penddidik profesional dengan tugas utama mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sosok guru, merupakan profesi yang mulia, karena dari gurulah, orang tahu ilmu pengetahuan dan etika. Tanpa didikan mereka, mungkin masyarakat masih dalam ketertinggalan. Dari mereka pula, maka anak - anak cerdas Indonesia lahir dan berjaya dalam olimpiade pengetahuan dunia termasuk matematika.
Menurut Maukuf Al-Masykuri, ada beberapa peran guru harapan bangsa, yaitu : guru sebagai pendidik,  pengajar dan fasilitator, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, orangtua, ilmuan, spiritualis, pemimpin, dan konselor.
1.      Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Guru harus memahami nilai – nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggungjawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai pendidik, guru juga harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.
2.      Guru sebagai Pengajar dan Fasilitator
Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk sebuah metode pembelajaran yang disukai siswa, dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakaan hal – hal yang uptodate dan tidak ketinggalan zaman.
Perkembangan teknologi mengubah peran guru sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan dalam belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio, dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita.
3.      Guru sebagai Pembimbing
Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan ang sebagai pembimbing perjalanan yang didasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan,menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
4.      Guru sebagai Pengarah
Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkaan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarahkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya.
Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.
5.      Guru sebagai Pelatih
Guru yang profesional harus mampu berperan seperti pelatih olahraga. Ia lebih banyak membantu siswanya dalam permainan. Sebagai pelatih, guru harus senantiasa memotifasi siswanya untuk menguasai materi pelajaran, bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi – tingginya.
6.      Guru sebagai Penilai
Penilaian atau evaluasi merupakan aspek pembelajaran yang sangat kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.
7.      Guru sebagai Orang Tua
Seorang guru berperan juga sebagai orang tua siswa – siswi di sekolah, guru dalam proses pendidikan ini diharapkan mampu memposisikan dirinya di antara anak didiknya seakan – akan seperti orang tua yang senantiasa membimbing putera – puterinya menjadi orang yang lebih dari dirinya.
Keteladanan sang guru dengan perbuatan atau amal perbuatannya yang secara real tampak jelas pada perilakunya, seperti geraknya, diamnya, bicaranya, pandangannya, seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keyakinan atau keimanan dan pemahaman dalam kehidupan sang guru, dalam rangka memberikan pengaruh keteladanan yang baik (Qudwah Shalihah) pada saat kemunculannya di tengah – tengah masyarakat.
8.      Guru sebagai Ilmuwan
Seorang guru juga adalah ilmuwan bagi para muridnya, seorang guru harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas spiritualnya (kedekatannya kepada ALLAH) agar dapat menjadi sumber inspirasi bagi para siswa – siswinya, laksana seorang ulama ( orang yang banyak ilmunya ) yang mempunyai kedalaman ilmu dan amal sehingga bisa memberikan kontribusi ma’nawiyah baik untuk anak didiknya.
9.      Guru sebagai Spiritulis
Seorang guru adalah ustdz/ustadzah bagi siswanya, perannya adalah mengajarkan, memahamkan, dan menanamkan keilmuan dan etika positif kepada siswa – siswinya. Guru dalam hal ini diibaratkan bagaikan samudera ilmu bagi para anak didiknya, artinya seorang guru harus meng up – grade ilmunya sesuai dengan perkembangan jamannya sehingga dapat mengikuti perkembangan yang terjadi pada siswa – siswinya.
10.  Guru sebagai Pemimpin
Seorang guru adalah seorang Pemimpin, dimana guru dituntut untuk dapat mengarahkan dan memimpin siswanya ke jalan yang benar, memberikan tauladan, dan nasihat dan arahan -  arahan sehingga siswanya tidak mengalami salah jalan dan tujuan dalam kehidupannya.
11.  Guru sebagai Konselor
Seorang guru juga bisa sebagai konselor, karena guru profesional adalah guru yang mampu menjadi sahabat dan teladan siswanya, serta mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif, nyaman dan menyenangkan.
  1. Metode Pembelajaran Matematika
1.      Metode Ceramah
Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar kepada sejumlah orang di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi yang terjadi searah dari pembicara kepada pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
2.      Metode Ekspositori
Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus bicara. Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga, membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menjelaskan lagi secara individual atau klasikal. Kalau dibandingkan dominasi guru dalam kegiatan belajar mengajar, metode ceramah lebih terpusat pada guru daripada metode ekspositori. Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif dari pada metode ceramah. Siswaa mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga, saling bertanya dan mengerjakannya bersama temannya, atau disuruh membuatnya di papan tulis.
3.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan metode ekspositori. Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Tetapi pada metode demonstrasi aktivitas siswa lebih banyak lagi dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru lebih berkurang lagi.
Ciri khas metode demonstrasi tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan penggunaan alat, misalnya pemakaian sepasang segitiga untuk menggambarkan dua garis sejajar atu saling tegak lurus, jangka, dan segitiga untuk membuat lukisan – lukisan geometri, penggunaan daftar, mistar hitung, atau kalkulator untuk melakukan perhitungan – perhitungan.
4.      Metode Drill dan Latihan
Banyak alat yang dapat membantu orang untuk dapat berhitung cepat dan cermat. Daftar kuadrat, daftar akar, dan kalkulator misalnya. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa alat di sekolah tetap digunakan. Karena itu dalam kegiatan belajar ini akan dibicarakan pula metode drill dan metode latihan. Dalam banyak hal kata “drill” dan “latihan” merupakan sinonim. Namun di sini kedua kata itu akan dibedakan.
Satu hal yang perlu diperhatikan bila metode drill akan diberikan adalah menentukan waktu yang tepat. Menyuruh siswa menghafal perkalian dari 1 x 1 sampai 10 x 10 tanpa lebih dulu memahami konsep perkalian merupakan beban yang berat sekali bagi mereka. Cara seperti ini harus dihindari. Namun tidak berarti bahwa metode drill tidak boleh dipakai dalam pengajaran matematika, sebab diantaranya untuk terampil berhitung, siswa disyaratkan hafal fakta – fakta dasar perkalian. Tanpa hafal fakta – fakta, siswa tidak akan dapat terampil berhitung. Seseorang yang tidak hafal fakta – fakta dan kurang menguasai penggunaan logaritma berhitung akan sukar belajar matematika selanjutnya.
Sedangkan metode latihan secara tertulis dapat diberikan di kelas dan sebagai tugas pekerjaan rumah. Soal – soal latihan untuk di rumah hendaknya meliputi pula yang mudah, hingga tiap siswa dapat membuatny. Jika soal – soal sukar semua dapat menimbulkan keengganan siswa untuk mengerjakannya.
5.      Metode Tanya Jawab
Umumnya pada tiap kegiatan belajar – mengajar selalu ada tanya jawa. Namun, tidak pada setiap kegiatan belajar – mengajar dapat disebut menggunakan metode tanya jawab. Misalnya dalam pengajaran dengan metode ekspositori guru mengajukan pertanyaan dan siswa memberikan jawaban. Cara mengajar ini tidak dapat disebut menggunakan metode tanya jawab, walaupun sering terjadi tanya jawab.
Suatu pengajaran disajikan melalui tanya jawab jika bahan pelajaran disajikan melalui  metode tanya jawab. Dengan menggunakan metode ini siswa lebih aktif daripada belajar mengajar dengan metode ekspositori. Sebab, pertanyaan – pertanyaan yang diajukan guru harus mereka jawab. Atau mungkin mereka balik bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas baginya. Meskipun aktifitas siswa makin besar, namun kegiatan dan materi pengajaran ditentukan guru.
6.      Metode Penemuan ( Discovery )
Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan siswa. Dalam belajarnya, siswa menemukan sendiri sesuatu hal yang baru. Ini tidak berarti hal yang ditemukannya itu benar – benar baru sebab sudah diketahui orang lain. Berbeda halnya dengan deskrates misalnya, dulu ketika mula – mula merintis geometri analitik, ia adalah orang pertma yang menemukan sesuatu yang baru, yaitu kaitan antara aljabar dan geometri dengan ditemukannya sistem koordinat. Kalau seorang anak SD sekarang dalam kegiatan belaajarnya berhasil menemukan sendiri bentuk persamaan linear dari garis lurus yang melalui titik – titik terentu dalam bidang koordinat, ia pun telah menemukan sesuatu yang baru. Tetapi baru di sini adalah baru bagi dirinya saja, karena hal itu sudah dikenal orang.
Cara belajar menemukan ( discovery learning ) ini tidak merupakan cara belajar yang baru. Cara belajar melalui penemuan sudah digunakan puluhan abad yang lalu dan Socrates sebagai orang yang pertama manggunakan metode penemuan.
7.      Metode Inkuiri
Metode inkuiri merupakan metode mengajar yang paling mirip dengan metode penemuan. Perbedaannya adalah mengajar dengan metode penemuan biasanya dilakukan dengan ekspositori dalam kelompok – kelompok kecil, sedangkan pada metode inkuiri dilakukan melalui ekspositori, melompok, dan cara sendiri – sendiri.
8.      Metode Permainan
Permainan dalam matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan intruksional pembelajaran matematika. Tujuan ini dapat menyangkut : aspek kognutif,  psikomotorik, atau afektif.


BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, maka dapat didapat beberapa kesimpulan, yaitu :
  1. Beberapa anggapan negatif siswa terhadap matematika menurut Frans Susilo, adalah :
a.        anggapan bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang.
b.       bahwa matematika adalah ilmu berhitung.
c.        bahwa matematika hanya menggunakan otak.
d.       bahwa yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar.
e.       bahwa kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi.
  1. Ada beberapa peran guru harapan bangsa menurut Maukuf Al-Masykuri, yaitu : guru sebagai pendidik,  pengajar dan fasilitator, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, orangtua, ilmuan, spiritualis, pemimpin, dan konselor.
  2. Ada beberapa metode pembelajaran dalam matematika, di antaranya : metode ceramah, metode ekspositori, metode demonstrasi, metode drill dan metode latihan, metode tanya jawab, metode penemuan ( discovery ), metode penemuan, dan metode permainan.
  1. Saran
Dari pembahasan di atas, penulis memberikan beberapa saran kepada guru dan calon guru agar selalu memperhatikan bagaimana peran seorang guru, dan bagaimana metode yang kita gunakan dalam proses belajar – mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar