TUGAS : BAHASA INDONESIA
PERAN GURU MATEMATIKA
DALAM MENGANTISIPASI KESULITAN SISWA PADA MATA
PELAJARAN MATEMATIKA

DISUSUN OLEH :
NAMA : ADIDIN
KELAS : B
NPM :
10 221 059
PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAU – BAU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Mengajar adalah kegiatan yang sangat
kompleks, karena merupakan interaksi
yang halus bervariasi antara guru, siswa, bahan pelajaran kelas dan lingkungan
kultural (James Popham dan Eva L. Baker : 2008). Pelaksanaan pengajaran ini
rumit sekali sehingga diperlukan pemahaman secara tuntas terhadap sebagian
besar interaksi yang berpengaruh pada pengajaran. Olehnya itu, dalam proses
mengajar seorang guru juga harus mampu berinteraksi dengan siswa, dan
lingkungan sekitarnya.
Bagi seorang guru matematika, bukan
hanya penguasaan terhadap bahan pelajaran sangat dibutuhkan namun seorang guru
matematika juga harus mampu mengubah cara pandang siswa terhadap matematika.
Sebab, matematika
dianggap sebagai momok bagi pelajar (Surya, 2005). Anggapan tersebut menjadi
masalah klasik yang terjadi pada hampir semua jenjang pendidikan dari Sekolah
Dasar hingga Pendidikan Tinggi. Pada kenyataannya, masih ada image yang
menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit.
Salah satu faktor yang dapat berpengaruh buruk
terhadap prestasi matematika siswa adalah kecemasan.
Guru memegang
peranan penting dalam mencari alternatif untuk mengatasi kecemasan siswa yang
tidak berkesempatan mendapatkan pelajaran tambahan matematika di luar sekolah.
Salah satu alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan menciptakan suasana
belajar yang dapat mengurangi tingkat kecemasan siswa. Fisher (1988, h.17)
menyebutkan bahwa guru kelas dapat membantu mengurangi kecemasan siswa dengan
membuat suasana kelas yang menyenangkan, seperti menggunakan humor, permainan,
dan aktivitas dengan tingkat relaksasi tinggi.Kecemasan siswa juga dapat
dikurangi dengan memberikan rasa aman kepada siswa, suasana santai tetapi
teratur, dan juga dengan kurikulum dan jadwal yang terorganisir secara baik.
Situasi kelas yang penuh kompetisi sebaiknya juga tidak diterapkan. Pada
dasarnya, guru diharapkan dapat menerapkan suatu metode pembelajaran yang dapat
mengurangi tingkat kecemasan siswa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan
perilaku dan prestasi belajar siswa.
- Rumusan Masalah
Dari latar
belakang di atas, dapat dididentifikasi bahwa kesulitan siswa terhadap
matematika disebabkan karena kecemasan siswa terhadap suasana persaingan dari
penerapan metode kompetisi. Sehingga, dari hal ini diperlukan seorang guru yang
tidak hanya menguasai bahan pelajaran, tetapi juga seorang guru yang mampu
mengubah dan menghilangkan kecemasan siswa terhadap matematika.
- Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca
tentang bagaimana peran seorang guru dalam mengantisipasi kesulitan siswa
terhadap mata pelajaran matematika.
Adapun manfaat
dari penyusunan makalah ini adalah semoga dapat menambah wawasan serta
pengetahuan baik bagi pembaca serta bagi penulis sendiri .
- Ruang Lingkup
Agar lebih
efektif dan efisien, maka dalam makalah ini penulis hanya akan mengkaji tentang
hal – hal berikut :
- Bagaimana menyingkap mitos negatif masyarakat terhadap Matematika ?
- Bagaimana peran guru sebagai seorang guru harapan bangsa ?
- Metode/cara apakah yang ada dalam pembelajaran matematika yang dapat digunakan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran matematika ?
BAB II
PEMBAHASAN
- Menyingkap Mitos Negatif Masyarakat terhadap Matematika
Matematika
merupakan salah satu ilmu dasar yang harus disukai setiap manusia, terutama
oleh siswa di sekolah. Sebab ternyata matematika tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia sehari – hari.
Matematika
berkembang seiring dengan peradaban manusia. Sejarah ilmu pengetahuan
menempatkan matematika pada puncak hierarki ilmu pengetahuan. Matematika seolah
– olah menjadi ratu bagi ilmu pengetahuan, peletakan yang demikian –menurut anggapan kebanyakan orang–
menimbulkan mitos bahwa matematika adalah penentu intelektual seseorang (Abdul
Halim Fathani : 2009). Jika seseorang tidak mengerti matematika, berarti mereka
dianggap tidak pintar. Padahal kepintaran seseorang itu bermacam – macam, ada
yang jenius dalam bidang sains, dan yang yang lain jenius di bidang seni, namun
tidak mengerti matematika sama sekali.
Di samiping itu,
masyarakat juga memiliki persepsi negatif terhadap matematika. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Frans Susilo, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap
matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai matematika.
Untuk memahami matematika secara benar dan sewajarnya, pertama – tama perlu
diklarifikasi terlebih dahulu beberapa mitos ( persepsi ) negatif terhadap
matematika, antara lain :
Pertama, anggapan
bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak
dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat
mempelajari matematika diperlukan kecerdasan yang tinggi, akibatnya bagi mereka
yang merasa kecerdasannya rendah, mereka tidak termotivasi untuk belajar
mtematika.
Kedua, bahwa
matematika adalah ilmu berhitung. Kemampuan berhitung dengan bilangan –
bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, pada
hakikatnya berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan
matematika. Selain mengerjakan perhitungan – perhitungan, orang juga berusaha
memahami mengapa perhitungan itu dikerjakan dengan menggunakan suatu cara
tertentu.
Ketiga, bahwa
matematika hanya menggunakan otak. Aktivitas matematika memang memerlukan
logika dan kecerdasan otak. Namun, logika dan kecerdasan otak saja tidak
mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreatifitas
dan intuisi manusia sperti halnya seni dan sastra. Kreatifitas dalam matematika
menyangkut akal budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal – hal yang
benar.
Keempat, bahwa
yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar. Jawaban yang
benar memang penting dan harus diusahakan. Namun, yang lebih penting sebenarnya
adalah bagaimana prosesnya untuk memperoleh jawaban yang benar. Dengan kata
lain, dalam menyelesaikan pelbagai persoalan matematika, yang lebih penting
adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam
menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang
benar.
Kelima, bahwa
kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika
sebenarnya bersifat nisbi. Kebenaran matematika tergantung kesepakatan awal
yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada
anggapan bahwa tidak ada kebenaran ( tuth ) dalam matematika, yang ada hanyalah
kesalahan ( validity ), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang
digunakan manusia pada umumnya.
- Peran Guru Harapan Bangsa
Menurut Undang –
undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 adalah “ penddidik
profesional dengan tugas utama mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sosok guru,
merupakan profesi yang mulia, karena dari gurulah, orang tahu ilmu pengetahuan
dan etika. Tanpa didikan mereka, mungkin masyarakat masih dalam ketertinggalan.
Dari mereka pula, maka anak - anak cerdas Indonesia lahir dan berjaya dalam
olimpiade pengetahuan dunia termasuk matematika.
Menurut Maukuf
Al-Masykuri, ada beberapa peran guru harapan bangsa, yaitu : guru sebagai
pendidik, pengajar dan fasilitator,
pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, orangtua, ilmuan, spiritualis,
pemimpin, dan konselor.
1. Guru sebagai Pendidik
Guru adalah
pendidik, yang menjadi tokoh, dan identifikasi bagi para peserta didik dan
lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus mempunyai standar kualitas pribadi
tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Guru harus
memahami nilai – nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan
berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus
bertanggungjawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai pendidik,
guru juga harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan
pembelajaran, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan
lingkungan.
2. Guru sebagai Pengajar dan Fasilitator
Di dalam
tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari
sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk sebuah metode pembelajaran yang
disukai siswa, dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai
pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang
disampaikan kepada peserta didik merupakaan hal – hal yang uptodate dan tidak
ketinggalan zaman.
Perkembangan
teknologi mengubah peran guru sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan
materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan
dalam belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan
banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui
internet tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio, dan
surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita.
3. Guru sebagai Pembimbing
Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan ang sebagai
pembimbing perjalanan yang didasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang
bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara
jelas, menetapkan waktu perjalanan,menetapkan jalan yang harus ditempuh,
menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
4. Guru sebagai Pengarah
Guru adalah
seorang pengarah bagi peserta didik, bahkaan bagi orang tua. Sebagai pengarah
guru harus mampu mengarahkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang
dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan
menemukan jati dirinya.
Guru juga
dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya,
sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam
menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.
5. Guru sebagai Pelatih
Guru yang
profesional harus mampu berperan seperti pelatih olahraga. Ia lebih banyak
membantu siswanya dalam permainan. Sebagai pelatih, guru harus senantiasa
memotifasi siswanya untuk menguasai materi pelajaran, bekerja keras dan
mencapai prestasi setinggi – tingginya.
6. Guru sebagai Penilai
Penilaian atau
evaluasi merupakan aspek pembelajaran yang sangat kompleks, karena melibatkan
banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti
apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan
dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena
penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk
menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.
7. Guru sebagai Orang Tua
Seorang guru
berperan juga sebagai orang tua siswa – siswi di sekolah, guru dalam proses
pendidikan ini diharapkan mampu memposisikan dirinya di antara anak didiknya
seakan – akan seperti orang tua yang senantiasa membimbing putera – puterinya
menjadi orang yang lebih dari dirinya.
Keteladanan sang
guru dengan perbuatan atau amal perbuatannya yang secara real tampak jelas pada
perilakunya, seperti geraknya, diamnya, bicaranya, pandangannya, seluruh
keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keyakinan atau keimanan dan
pemahaman dalam kehidupan sang guru, dalam rangka memberikan pengaruh
keteladanan yang baik (Qudwah Shalihah) pada saat kemunculannya di tengah –
tengah masyarakat.
8. Guru sebagai Ilmuwan
Seorang guru
juga adalah ilmuwan bagi para muridnya, seorang guru harus senantiasa berupaya
meningkatkan kualitas spiritualnya (kedekatannya kepada ALLAH) agar dapat
menjadi sumber inspirasi bagi para siswa – siswinya, laksana seorang ulama (
orang yang banyak ilmunya ) yang mempunyai kedalaman ilmu dan amal sehingga
bisa memberikan kontribusi ma’nawiyah baik untuk anak didiknya.
9. Guru sebagai Spiritulis
Seorang guru
adalah ustdz/ustadzah bagi siswanya, perannya adalah mengajarkan, memahamkan,
dan menanamkan keilmuan dan etika positif kepada siswa – siswinya. Guru dalam
hal ini diibaratkan bagaikan samudera ilmu bagi para anak didiknya, artinya
seorang guru harus meng up – grade ilmunya sesuai dengan perkembangan jamannya
sehingga dapat mengikuti perkembangan yang terjadi pada siswa – siswinya.
10. Guru sebagai Pemimpin
Seorang guru
adalah seorang Pemimpin, dimana guru dituntut untuk dapat mengarahkan dan
memimpin siswanya ke jalan yang benar, memberikan tauladan, dan nasihat dan
arahan - arahan sehingga siswanya tidak
mengalami salah jalan dan tujuan dalam kehidupannya.
11. Guru sebagai Konselor
Seorang guru
juga bisa sebagai konselor, karena guru profesional adalah guru yang mampu
menjadi sahabat dan teladan siswanya, serta mampu menciptakan suasana belajar
yang kondusif, nyaman dan menyenangkan.
- Metode Pembelajaran Matematika
1. Metode Ceramah
Ceramah
merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada
sejumlah pendengar kepada sejumlah orang di suatu ruangan. Kegiatan berpusat
pada penceramah dan komunikasi yang terjadi searah dari pembicara kepada
pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan sedang pendengar hanya
memperhatikan dan membuat catatan seperlunya.
2. Metode Ekspositori
Metode
ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada
guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode
ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus bicara.
Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada
waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan.
Tetapi juga, membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat
memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menjelaskan lagi secara individual
atau klasikal. Kalau dibandingkan dominasi guru dalam kegiatan belajar
mengajar, metode ceramah lebih terpusat pada guru daripada metode ekspositori.
Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif dari pada metode ceramah.
Siswaa mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga, saling bertanya dan
mengerjakannya bersama temannya, atau disuruh membuatnya di papan tulis.
3. Metode Demonstrasi
Metode
demonstrasi sejenis dengan metode ceramah dan metode ekspositori. Kegiatan
belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar
mengajar. Tetapi pada metode demonstrasi aktivitas siswa lebih banyak lagi
dilibatkan. Dengan demikian dominasi guru lebih berkurang lagi.
Ciri khas metode
demonstrasi tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya
kemampuan guru membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal
cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan penggunaan alat, misalnya pemakaian
sepasang segitiga untuk menggambarkan dua garis sejajar atu saling tegak lurus,
jangka, dan segitiga untuk membuat lukisan – lukisan geometri, penggunaan
daftar, mistar hitung, atau kalkulator untuk melakukan perhitungan – perhitungan.
4. Metode Drill dan Latihan
Banyak alat yang
dapat membantu orang untuk dapat berhitung cepat dan cermat. Daftar kuadrat,
daftar akar, dan kalkulator misalnya. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa
alat di sekolah tetap digunakan. Karena itu dalam kegiatan belajar ini akan
dibicarakan pula metode drill dan metode latihan. Dalam banyak hal kata “drill”
dan “latihan” merupakan sinonim. Namun di sini kedua kata itu akan dibedakan.
Satu hal yang
perlu diperhatikan bila metode drill akan diberikan adalah menentukan waktu
yang tepat. Menyuruh siswa menghafal perkalian dari 1 x 1 sampai 10 x 10 tanpa
lebih dulu memahami konsep perkalian merupakan beban yang berat sekali bagi
mereka. Cara seperti ini harus dihindari. Namun tidak berarti bahwa metode drill
tidak boleh dipakai dalam pengajaran matematika, sebab diantaranya untuk
terampil berhitung, siswa disyaratkan hafal fakta – fakta dasar perkalian.
Tanpa hafal fakta – fakta, siswa tidak akan dapat terampil berhitung. Seseorang
yang tidak hafal fakta – fakta dan kurang menguasai penggunaan logaritma
berhitung akan sukar belajar matematika selanjutnya.
Sedangkan metode
latihan secara tertulis dapat diberikan di kelas dan sebagai tugas pekerjaan
rumah. Soal – soal latihan untuk di rumah hendaknya meliputi pula yang mudah,
hingga tiap siswa dapat membuatny. Jika soal – soal sukar semua dapat
menimbulkan keengganan siswa untuk mengerjakannya.
5. Metode Tanya Jawab
Umumnya pada
tiap kegiatan belajar – mengajar selalu ada tanya jawa. Namun, tidak pada
setiap kegiatan belajar – mengajar dapat disebut menggunakan metode tanya
jawab. Misalnya dalam pengajaran dengan metode ekspositori guru mengajukan pertanyaan
dan siswa memberikan jawaban. Cara mengajar ini tidak dapat disebut menggunakan
metode tanya jawab, walaupun sering terjadi tanya jawab.
Suatu pengajaran
disajikan melalui tanya jawab jika bahan pelajaran disajikan melalui metode tanya jawab. Dengan menggunakan metode
ini siswa lebih aktif daripada belajar mengajar dengan metode ekspositori.
Sebab, pertanyaan – pertanyaan yang diajukan guru harus mereka jawab. Atau
mungkin mereka balik bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas baginya.
Meskipun aktifitas siswa makin besar, namun kegiatan dan materi pengajaran
ditentukan guru.
6. Metode Penemuan ( Discovery )
Kata penemuan
sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan siswa. Dalam
belajarnya, siswa menemukan sendiri sesuatu hal yang baru. Ini tidak berarti
hal yang ditemukannya itu benar – benar baru sebab sudah diketahui orang lain.
Berbeda halnya dengan deskrates misalnya, dulu ketika mula – mula merintis
geometri analitik, ia adalah orang pertma yang menemukan sesuatu yang baru,
yaitu kaitan antara aljabar dan geometri dengan ditemukannya sistem koordinat.
Kalau seorang anak SD sekarang dalam kegiatan belaajarnya berhasil menemukan
sendiri bentuk persamaan linear dari garis lurus yang melalui titik – titik
terentu dalam bidang koordinat, ia pun telah menemukan sesuatu yang baru.
Tetapi baru di sini adalah baru bagi dirinya saja, karena hal itu sudah dikenal
orang.
Cara belajar menemukan
( discovery learning ) ini tidak merupakan cara belajar yang baru. Cara belajar
melalui penemuan sudah digunakan puluhan abad yang lalu dan Socrates sebagai
orang yang pertama manggunakan metode penemuan.
7. Metode Inkuiri
Metode inkuiri
merupakan metode mengajar yang paling mirip dengan metode penemuan.
Perbedaannya adalah mengajar dengan metode penemuan biasanya dilakukan dengan
ekspositori dalam kelompok – kelompok kecil, sedangkan pada metode inkuiri
dilakukan melalui ekspositori, melompok, dan cara sendiri – sendiri.
8. Metode Permainan
Permainan dalam
matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang
tercapainya tujuan intruksional pembelajaran matematika. Tujuan ini dapat
menyangkut : aspek kognutif, psikomotorik, atau afektif.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Dari pembahasan
di atas, maka dapat didapat beberapa kesimpulan, yaitu :
- Beberapa anggapan negatif siswa terhadap matematika menurut Frans Susilo, adalah :
a.
anggapan bahwa untuk mempelajari
matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang.
b.
bahwa matematika adalah ilmu
berhitung.
c.
bahwa matematika hanya menggunakan
otak.
d.
bahwa yang paling penting dalam
matematika adalah jawaban yang benar.
e.
bahwa kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam
matematika sebenarnya bersifat nisbi.
- Ada beberapa peran guru harapan bangsa menurut Maukuf Al-Masykuri, yaitu : guru sebagai pendidik, pengajar dan fasilitator, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, orangtua, ilmuan, spiritualis, pemimpin, dan konselor.
- Ada beberapa metode pembelajaran dalam matematika, di antaranya : metode ceramah, metode ekspositori, metode demonstrasi, metode drill dan metode latihan, metode tanya jawab, metode penemuan ( discovery ), metode penemuan, dan metode permainan.
- Saran
Dari pembahasan di atas, penulis memberikan beberapa saran kepada guru dan
calon guru agar selalu memperhatikan bagaimana peran seorang guru, dan
bagaimana metode yang kita gunakan dalam proses belajar – mengajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar